Tampilkan postingan dengan label Pupuk Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pupuk Organik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

Cara Membuat EM 4 dari tumbuhan



Bahan-bahan
1)      Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
2)      Kulit buah-buahan (pepaya, pisang, rambutan, mangga, dsb)
3)      Bekatul secukupnya
4)      Gula merah, sedikit saja
5)      Air beras, secukupnya


Cara membuat :
1)      Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya didalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup, sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama 1 minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM-1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik “ ganas” yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditenggarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama sati minggu.
2)      Cairan EM-1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM-2.
3)      Cairan EM-2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkn lagi selama 1 minggu sehingga menjadi EM-3.
4)      Diamkan lagi selama 1 minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM-4.





Lihat Juga : 

Cara Membuat Pupuk Kompos



CARA MEMBUAT KOMPOS :

1.      Cara Terbuka/ Aerobik
ü  Cara ini membutuhkan oksigen
ü  Tempat pengomposan diberi atap agar terlindung dari sinar matahari dan hujan, serta berdrainase baik.
ü  Menyiapkan bak pengomposan, dapat di buat dari apa saja asal jangan logam. Bak dibuat agar oksigen dapat masuk dan air tidak tergenang. Bak dapat dibuat dari kayu dengan dinding belahan bambu. Bak berukuran panjang 150 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 100 cm.
ü  Menyiapkan cerobong pipa untuk memberi kesempatan oksigen dapat tetap masuk kebagian tengah kompos, dibuat dari paralon 4 inch panjang 150 cm yang telah di lubangi ukuran kecil dan banyak
ü  Menyiapkan alat panggung tinggi 10 cm untuk alas bak pengomposan
ü  Menyiapkan tutup kompos terbuat dari anyaman bambu
ü  Siapkan limbah yang akan di komposkan, atur agar perbandingan karbon dan nitrogen antara 25:1 hingga 30:1
ü  Bahan di potong-potong berukuran 1-7,5 cm,
ü  Letakkan bak kompos di atas alat panggung, kemudian masukkan bahan-bahan hingga memenuhi ½ tinggi bak kompos
ü  Letakkan cerobong hawa pada posisi tidur atau berdiri
ü  Setiap ketebalan tumpukan 30 cm siram dengan air yang sudah mengandung MOL
ü  Kelembaban bahan diatur agar sesuai, yaitu bahan dapat dikepal pada saat digenggam
ü  Cek suhu tumpukan bahan dengan termometer, jika suhu <45 span="">C maka bahan perlu di siram air lagi, jika suhu > 65C maka bahan perlu dibolak balik.
ü  Biarkan proses pengomposan berlangsung

2.      Cara Tertutup/ Anaerobik
ü  Cacah tau potong bahan menjadi ukuran kecil (2-3 cm)
ü  Campur sampah cokelat (1 bagian) dan sampah hijau (2 bagian)
ü  Ratakan sampah sebelum diberi MOL/ pasukan mikroba
ü  Sirami sampah dengan MOL secara merata
ü  Aduk sampah agar mol teraduk merata, siram terus sampai kondisi sampah saat di genggam dapat mengepal tetapi tidak mengeluarkan tetes air
ü  Masukkan sampah kedalam karung atau siapkan penutup sampah menggunakan terpal
ü  Tutup karung yang telah berisi sampah, atau tutup gundukan sampah dengan terpal
ü  Letakkan karung di lokasi yang ternaung dan tidak kehujanan
ü  Proses pengomposan akan berjalan

Lihat juga:


Selasa, 25 Desember 2007

Membuat Pupuk Cair Sabut Kelapa Ala Ali Mugni

Haji Ali Mugni (65) sadar lahan sawah yang terus-menerus ditanami akan kehilangan unsur hara. Pupuk bisa membantu menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sayangnya pupuk kimia, yang banyak digunakan terus-menerus, malah membuat tanah menjadi keras dan petani terus tergantung pupuk kimia. Ia mencoba terobosan baru yaitu membuat pupuk cair pengganti pupuk kimia KCl buatan pabrik. Hasilnya cukup memuaskan.

Berbekal pengetahuan yang didapat dari berbagai pelatihan, Mugni, petani dari Desa Laban, Kecamatan Pedes, Karawang, mencoba menanam padi tanpa tanpa pupuk kimia. Mugni membuat pupuk cair spesial menggunakan sabut kelapa sebagai ganti pupuk KCl. Di benak Beliau, pupuk cair dari sabut kelapa ini kalau berhasil bisa mengurangi biaya, mengembalikan kesuburan tanah, dan mengurangi ketergantungannya pada pupuk pabrik.

Berikut ini cara membuat pupuk cair sabut kelapa ala Ali Mugni:

Bahan dan alat

-Sabut kelapa sebanyak 25 kg

-Satu drum bekas atau bisa juga wadah serupa lainnya

-Air sebanyak 40 liter

Cara pembuatan

1. Sabut kelapa yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam drum bekas

2. Tuangkan air ke dalam drum hingga separuh terisi

3. Drum rendaman sabut kalapa harus ditutup rapat, agar tidak kemasukan air hujan atau sinar matahari langsung

4. Diamkan rendaman itu kurang lebih 15 hari

5. Jika air rendaman sudah berubah warna menjadi kuning kehitaman, berarti pupuk cair dari sabut kelapa sudah jadi dan siap digunakan

Aplikasi

1. Pupuk cair diberikan dua kali dalam satu musim tanam

2. Pertama sebagai pupuk dasar sebelum lahan ditanami atau pada fase pengolahan tanah

3. Kedua pupuk diberikan setelah padi memasuki masa primordia (awal tumbuh), dengan cara pupuk tanpa tambahan air disemprotkan pada batang padi.

Menurut Ali Mugni hasil panenan dari lahan yang menggunakan pupuk cair sabut kelapa sama dengan lahan yang menggunakan pupuk kimia KCl buatan pabrik. Keuntungan lahan menggunakan pupuk cair sabut kelapa, biaya produksi lebih sedikit karena tidak perlu keluar uang membeli pupuk KCl.

(Tulisan Harry Suryadi berSumber dari buku: “Angin di Hamparan Karawang,” oleh Ratam S, Solihin T, A Agus, Eno Mayono, dan Hery Prasetiyo, diterbitkan oleh Forum Petani Karawang dan Nastari)

Sabtu, 22 Desember 2007

Memanfaatkan kotoran kelinci untuk membuat pupuk cair organik

Kotoran kelinci berfungsi sebagai pemercepat proses pembuatan pupuk cair organik. Demikian disampaikan Rohaji kepada para peserta “Pelatihan Pupuk Kotoran Kelinci” di Kampoeng Organik 2004, Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta tanggal 25 September 2004.

Berikut ini langkah-langkah pembuatan pupuk cair dengan bantuan kotoran kelinci:

Siapkan wadah dengan kedalaman 10 cm. Masukkan serbuk gergaji (serbuk pohon kelapa) secukupnya ke dalam wadah. Lalu kelinci dimasukkan ke dalam wadah itu. Supaya kelinci tidak keluar wadah itu diletakkan di tempat yang tinggi. Kotoran dan kencing kelinci akan langsung bercampur dengan serbuk gergaji.

Biasanya setelah 3-4 hari, jika tumbuh jamur di serbuk gergaji, berarti serbuk gergaji sudah jenuh dengan kotoran. Jamur yang tumbuh itu untuk makanan bakteri.

Selanjutnya, serbuk gergaji dipindahkan ke ember dan masukkan air panas sampai seluruh serbuk gergaji terendam. Biarkan campuran basah itu selama dua malam.

Setelah itu bahan serbuk gergaji disaring. Cairan hasil saringan agar terfermentasi diaduk-aduk agar semua bagian mendapatkan udara (teraerasi). Jika timbul bintik-bintik putih (jamur), air hasil saringan harus diaduk lagi.

Munculnya bintik-bintik putih menjadi petanda senyawa organik dalam cairan belum terurai. Ulangi lagi pengadukan sampai bintik putih menghilang selama kurang lebih 21 hari.

Setelah stabil, cairan itu menjadi pupuk cair organik yang bisa bertahan lama karena mengandung bakteri yang mempunyai sistem pertahanan diri.

Pupuk cair bisa disemprotkan pada daun untuk mempercepat proses asimilasi daun atau disemprotkan pada tanah. Komposisi penggunaannya yaitu empat mililiter pupuk cair dicampur dengan satu liter air.

Ampas sisa penyaringan dapat digunakan sebagai media hidup cacing tanah. Setelah ampas itu akan dimakan cacing, hasilnya adalah kascing (kotoran cacing) yang berupa tanah. Tanah kotoran cacing itu bisa dimanfaatkan sebagai media pembibitan dalam wadah gelas bekas air dalam kemasan atau wadah lainnya.(Ani Parwati /Berita BumI)

Cara Membuat Pupuk Organik Cair

Bahan dan Alat:

1 liter bakteri
5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya)
0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya
1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air
30 kg kotoran hewan
Air secukupnya
Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat
Cara Pembuatan:

Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember.
Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember.
Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat.
Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka.
Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan.
Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya.
Kegunaan:

Mempercepat pengomposan dari 3-4 bulan menjadi 30-40 hari.
Dapat digunakan langsung sebagai pupuk semprot, apabila tanah sudah diberi kompos (subur), tetapi apabila tanah kurang subur/tandus, penggunaan langsung sebagai pupuk tidak dianjurkan.
Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau. (Petani Desa Feb 2007)



Baca juga : cara membuat pupuk kandang

Cara Membuat Pupuk Organik


Bahan dan Komposisi:

200 kg hijau daun atau sampah dapur.
10 kg dedak halus.
¼ kg gula pasir/gula merah.
¼ liter bakteri.
200 liter air atau secukupnya.
Cara Pembuatan:

Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi.
Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun.
Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air.
Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata.
Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat.
Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan.

(Petani Desa Februari 2003)