Minggu, 17 Februari 2013
Cara Membuat EM 4 dari tumbuhan
Dikirim oleh
Klinik Organik Samarinda
di
Minggu, Februari 17, 2013
0
komentar
Label: Pupuk Organik
Cara Membuat Pupuk Kompos
Dikirim oleh
Klinik Organik Samarinda
di
Minggu, Februari 17, 2013
0
komentar
Label: Produk Organik Kami, Pupuk Organik
Selasa, 25 Desember 2007
Membuat Pupuk Cair Sabut Kelapa Ala Ali Mugni
Haji Ali Mugni (65) sadar lahan sawah yang terus-menerus ditanami akan kehilangan unsur hara. Pupuk bisa membantu menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sayangnya pupuk kimia, yang banyak digunakan terus-menerus, malah membuat tanah menjadi keras dan petani terus tergantung pupuk kimia. Ia mencoba terobosan baru yaitu membuat pupuk cair pengganti pupuk kimia KCl buatan pabrik. Hasilnya cukup memuaskan.
Berbekal pengetahuan yang didapat dari berbagai pelatihan, Mugni, petani dari Desa Laban, Kecamatan Pedes, Karawang, mencoba menanam padi tanpa tanpa pupuk kimia. Mugni membuat pupuk cair spesial menggunakan sabut kelapa sebagai ganti pupuk KCl. Di benak Beliau, pupuk cair dari sabut kelapa ini kalau berhasil bisa mengurangi biaya, mengembalikan kesuburan tanah, dan mengurangi ketergantungannya pada pupuk pabrik.
Berikut ini cara membuat pupuk cair sabut kelapa ala Ali Mugni:
Bahan dan alat
-Sabut kelapa sebanyak 25 kg
-Satu drum bekas atau bisa juga wadah serupa lainnya
-Air sebanyak 40 liter
Cara pembuatan
1. Sabut kelapa yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam drum bekas
2. Tuangkan air ke dalam drum hingga separuh terisi
3. Drum rendaman sabut kalapa harus ditutup rapat, agar tidak kemasukan air hujan atau sinar matahari langsung
4. Diamkan rendaman itu kurang lebih 15 hari
5. Jika air rendaman sudah berubah warna menjadi kuning kehitaman, berarti pupuk cair dari sabut kelapa sudah jadi dan siap digunakan
Aplikasi
1. Pupuk cair diberikan dua kali dalam satu musim tanam
2. Pertama sebagai pupuk dasar sebelum lahan ditanami atau pada fase pengolahan tanah
3. Kedua pupuk diberikan setelah padi memasuki masa primordia (awal tumbuh), dengan cara pupuk tanpa tambahan air disemprotkan pada batang padi.
Menurut Ali Mugni hasil panenan dari lahan yang menggunakan pupuk cair sabut kelapa sama dengan lahan yang menggunakan pupuk kimia KCl buatan pabrik. Keuntungan lahan menggunakan pupuk cair sabut kelapa, biaya produksi lebih sedikit karena tidak perlu keluar uang membeli pupuk KCl.
(Tulisan Harry Suryadi berSumber dari buku: “Angin di Hamparan Karawang,” oleh Ratam S, Solihin T, A Agus, Eno Mayono, dan Hery Prasetiyo, diterbitkan oleh Forum Petani Karawang dan Nastari)
Dikirim oleh
Klinik Organik Samarinda
di
Selasa, Desember 25, 2007
4
komentar
Label: Pupuk Organik
Sabtu, 22 Desember 2007
Memanfaatkan kotoran kelinci untuk membuat pupuk cair organik
Kotoran kelinci berfungsi sebagai pemercepat proses pembuatan pupuk cair organik. Demikian disampaikan Rohaji kepada para peserta “Pelatihan Pupuk Kotoran Kelinci” di Kampoeng Organik 2004, Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta tanggal 25 September 2004.
Berikut ini langkah-langkah pembuatan pupuk cair dengan bantuan kotoran kelinci:
Siapkan wadah dengan kedalaman 10 cm. Masukkan serbuk gergaji (serbuk pohon kelapa) secukupnya ke dalam wadah. Lalu kelinci dimasukkan ke dalam wadah itu. Supaya kelinci tidak keluar wadah itu diletakkan di tempat yang tinggi. Kotoran dan kencing kelinci akan langsung bercampur dengan serbuk gergaji.
Biasanya setelah 3-4 hari, jika tumbuh jamur di serbuk gergaji, berarti serbuk gergaji sudah jenuh dengan kotoran. Jamur yang tumbuh itu untuk makanan bakteri.
Selanjutnya, serbuk gergaji dipindahkan ke ember dan masukkan air panas sampai seluruh serbuk gergaji terendam. Biarkan campuran basah itu selama dua malam.
Setelah itu bahan serbuk gergaji disaring. Cairan hasil saringan agar terfermentasi diaduk-aduk agar semua bagian mendapatkan udara (teraerasi). Jika timbul bintik-bintik putih (jamur), air hasil saringan harus diaduk lagi.
Munculnya bintik-bintik putih menjadi petanda senyawa organik dalam cairan belum terurai. Ulangi lagi pengadukan sampai bintik putih menghilang selama kurang lebih 21 hari.
Setelah stabil, cairan itu menjadi pupuk cair organik yang bisa bertahan lama karena mengandung bakteri yang mempunyai sistem pertahanan diri.
Pupuk cair bisa disemprotkan pada daun untuk mempercepat proses asimilasi daun atau disemprotkan pada tanah. Komposisi penggunaannya yaitu empat mililiter pupuk cair dicampur dengan satu liter air.
Ampas sisa penyaringan dapat digunakan sebagai media hidup cacing tanah. Setelah ampas itu akan dimakan cacing, hasilnya adalah kascing (kotoran cacing) yang berupa tanah. Tanah kotoran cacing itu bisa dimanfaatkan sebagai media pembibitan dalam wadah gelas bekas air dalam kemasan atau wadah lainnya.(Ani Parwati /Berita BumI)
Dikirim oleh
Klinik Organik Samarinda
di
Sabtu, Desember 22, 2007
0
komentar
Label: Pupuk Organik
Cara Membuat Pupuk Organik Cair
Bahan dan Alat:
1 liter bakteri
5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya)
0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya
1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air
30 kg kotoran hewan
Air secukupnya
Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat
Cara Pembuatan:
Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember.
Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember.
Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat.
Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka.
Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan.
Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya.
Kegunaan:
Mempercepat pengomposan dari 3-4 bulan menjadi 30-40 hari.
Dapat digunakan langsung sebagai pupuk semprot, apabila tanah sudah diberi kompos (subur), tetapi apabila tanah kurang subur/tandus, penggunaan langsung sebagai pupuk tidak dianjurkan.
Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau. (Petani Desa Feb 2007)
Dikirim oleh
Klinik Organik Samarinda
di
Sabtu, Desember 22, 2007
1 komentar
Label: Pupuk Organik
Cara Membuat Pupuk Organik
Bahan dan Komposisi:
200 kg hijau daun atau sampah dapur.
10 kg dedak halus.
¼ kg gula pasir/gula merah.
¼ liter bakteri.
200 liter air atau secukupnya.
Cara Pembuatan:
Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi.
Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun.
Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air.
Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata.
Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat.
Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan.
(Petani Desa Februari 2003)
Dikirim oleh
Klinik Organik Samarinda
di
Sabtu, Desember 22, 2007
5
komentar
Label: Pupuk Organik